Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

RUMAH AKSARA: Vox, Flatus, Pulsus...

Posted by Syafruddin on Aug 14, '08 4:36 PM for everyone

People ask me: “Why do you write about this war? The reason is quite simple: we are contemporaries of this savage conflict and, in the end, we will have to answer for it.—Anna Politkovskaja (1958-2006)

 

Pada acara pemutaran film tentang ketokohan dan aktivitas sosial salah seorang penerima anugerah Saparinah Sadli untuk ketegaran dan perjuangannya bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT), Aleta Ba’un (aktivis perempuan Lembaga Masyarakat Adat di So’e, Timor Tengah Selatan (TTS), saya tertegun dengan salah satu penggalan tagline film dokumenter itu. “Tuhan tidak menciptakan pegawai, Tuhan tidak menciptakan presiden, dan Tuhan tidak menciptakan pemimpin... Tetapi Tuhan menciptakan petani.”

Pengakuan tulus dari seorang pemuka adat mayarakat Mollo (Timor Tengah Selatan, NTT) yang gigih mempertahankan tanah mereka di daerah Mollo dari deru bulldozer, mesin penggusur tanah garapan; sungguh menyayat hati dan menggerus kepedihan. Dan, perempuan perdamaian asal Indonesia dari “wajah perempuan perdamaian”, Aleta Ba’un, begitu tegar memperjuangkan hak asasi kaum perempuan NTT dalam mempertahankan tanah pertanian mereka.

Aleta lahir di So’e, Timor Barat (NTT) pada 1966. Dia adalah seorang pendamping masyarakat yang bekerja bagi hak-hak masyarakat adat. Ia ikut mendirikan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal sejak 1996, seperti Sanggar Suara Perempuan (SSP) dan Jaringan Kesehatan Perempuan Indonesia (JKPI).

Pada waktu bekerja dengan LSM perempuan, Aleta banyak berkerja bagi isu kesehatan reproduksi, anti-kekerasan pada perempuan, dan pendampingan bagi korban kekerasan. Sejak 1999, dia mulai bergiat bagi masyarakat adat ketika isu pertambangan marmer mulai menyeruak ke daerah Mollo. Sejak saat itu, ia bekerja penuh bagi perjuangan mempertahankan tanah Mollo dari para investor tambang, juga berjuang untuk berkomunikasi dengan pihak pemerintah yang mendukung penambangan marmer di daerah Mollo.

Kehidupan Aleta cukup sulit. Banyak tantangan dan rintangan yang harus dilaluinya. Ada teror dan ancaman dari pihak tertentu yang mengancam keselamatannya dan keluarganya. Sekarang ini, sudah lebih dari lima bulan Aleta hidup dalam pengasingan karena harus bersembunyi dan tidak bisa bertemu dengan keluarga besarnya. Atas semua jerih payah, ketegaran, dan perjuangannya bagi masyarakat adat di Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Agustus 2007 ini ia memperoleh anugerah Saparinah Sadli.

Banyak nama perempuan luar biasa di dunia dicatat. Awalnya tahun 2005, dinominasikan 1.000 nama perempuan dari seluruh dunia untuk panitia penominasian hadiah Nobel untuk Perdamaian. Ini adalah penominasian kolektif dari 1.000 wajah perempuan di seluruh dunia, baik itu pekerja perempuan, dan perdamaian—dalam berbagai bidang perdamaian dan keadilan sosial. Mereka dihimpun dari 150 negara, dengan latar belakang yang berbeda atau beragam. Penominasian ini bertujuan menyampaikan pesan yang lebih substansial dan juga kampanye bagi penghargaan, pengajuan, dan mendukung kerja dalam isu perempuan dan perdamaian. Sayangnya, penghargaan Nobel bidang Perdamaian jatuh ke tangan orang lain, tidak kepada 1.000 perempuan perdamaian.

Setelah itu, akhir 2005, terkumpul dokumentasi profil dan juga kehidupan para kandidat penerima hadiah Nobel bidang Perdamaian ini dan kumpulan pengetahuan yang lebih terstruktur telah berhasil dibentuk untuk melakukan publikasi secara internasional.

Kaum perempuan menggugat. Relawan dan aktivis LSM perempuan tumbuh di mana-mana. Mereka merasa, kaum perempuan masih didiskriminasikan dan masih rentan menjadi korban kekerasan, baik kondisi normal maupun dalam bencana, pascakonflik dan atau konflik. Perdamaian bagi kaum perempuan bukan sekadar tiadanya peperangan, namun perdamaian adalah berdasarkan keadilan dan jaminan bagi keamanan umat manusia.

Kita perlu melihat kembali makna hakiki perdamaian itu untuk mengerti secara lengkap tentang isu perdamaian, juga untuk mencapai kesamaan pendapat lainnya tentang apa itu perdamaian yang sesungguhnya. Benarkah perdamaian itu meliputi aspek emosi dan fisik?

Kadang, perdamaian diartikan sebagai kegiatan yang berkaitan dengan kepahlawanan atau sesuatu yang spektakuler seperti yang dilakukan oleh kepala negara suatu pemerintahan. Dalam kenyataannya, perdamaian jarang menjadi sesuatu yang spektakuler, walaupun membutuhkan keberanian dan ketahanan tersendiri. Perdamaian yang efektif adalah pencarian jangka panjang terhadap keadilan dan jaminan keamanan. Ini adalah kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi perempuan yang menjadi penggerak perdamaian (peacebuilders).

Di Tanah Air, terhimpun 23 profil perempuan Indonesia yang menjadi penggerak perdamaian atau diistilahkan peacebuilders itu. Saya merasa penting menyebut nama-nama perempuan berhati mulia di sini: Ade Rostina Sitompul (Jakarta), Henny Yudea (Yogyakarta), Julien Florence Mona Saroinsong (Sulawesi Utara), Paula Makabory (Timika), Sophie Patty (Jayapura), Yusan Yeblo (Papua), Aleta Ba’un (So’e, NTT), Sr. Cecilia (Atambua, NTT), Nursyahbani Katjasungkana (Jakarta), Nani Zulminarni (Jakarta), Brigitta Renyaan (Ambon), Zohra Andi Baso (Makassar), Galuh Wandita (Jakarta), Esthi Susanti Hudiono (Surabaya), Ratna Indraswari Ibrahim (Malang), Samsidar (Aceh), Hermawati (Kalimantan Selatan), Farha Ciciek (Jakarta), Kamala Chandrakirana (Jakarta), Hilda Djulaida Rolobessy (Ambon), Dewi Rana Amir (Sulawesi Tenggara), Lily Djenaan (Manado), dan Yosepha Alomang (Timika).

Barangkali wajah 1.000 perempuan perdamaian dan atau 23 profil perempuan Indonesia ini tidak seharum, sepopuler atau sekaliber Bunda Theressa di Calcutta (India). Tetapi siapa menggugat sepak terjang, kegigihan, dan kepahlawanan mereka? Barangkali John Lennon benar dalam hal ini. Dan, karenanya kita perlu menyanyikan kembali lagu “Mother” karya The Beatles yang legendaris itu. Mother how are you today...? (Syafruddin Azhar)


yogautami wrote on Aug 26, '08
bumi.. perempuan..
Add a Comment